Cari Artikel di Blog ini

Selamat Datang di Website PA-DKI Plus

Website/Weblog PA-DKI Plus adalah pengembangan dari Milis PA-DKI yang sejak tahun 2000 sudah berdiri dan cukup hot dalam berdiskusi. Website ini dikembangkan dengan tujuan untuk menyediakan sumber-sumber maupun bahan-bahan bacaan yang berguna bagi para Pemuda Advent DKI, maupun penyediaan dokumen-dokumen penting Kepemudaan, termasuk foto-foto kegiatan pemuda.

PA DKI Plus adalah singkatan dari Pemuda Advent DKI Jakarta & Sekitarnya. "Plus" nya sendiri bisa berarti banyak. Yang pertama plus dalam arti usia, website dan milis PA-DKI seperti kita ketahui, tidak terbatas hanya untuk para orang muda, namun juga pada mereka yang berjiwa muda. Plus yang kedua tentunya dari segi geografi. Website dan milis PA-DKI terbuka untuk semua orang muda dan yang berjiwa muda di seluruh dunia, tidak hanya di DKI Jakarta.

Terima kasih banyak atas kunjungan Anda. Pihak moderator dengan senang hati menerima kiriman artikel rohani, sumber-sumber penting bagi Kepemudaan, berita-berita dari jemaat Anda, beserta gambar-gambarnya. Kirim kan saja ke email: admin@jakartaadventist.org, setelah disunting berita atau artikel Anda akan terpublish di Weblog ini.

Satu yang terakhir namun tetap penting, Milis dan Weblog PA-DKI adalah resmi di bawah naungan Direktur Pemuda Advent Konferens DKI Jakarta & Sekitarnya yang sekarang diemban oleh Pdt. Daniel Rampen.

Salam Pemuda,
Moderator

Friday, July 4, 2008

Sekeping Emas

Lelaki berjanggut panjang keperakan itu memang memancarkan kewibawaan yangbesar. Ia tampak duduk tenang dengan mata terpejam. Tangan kirinya terlihat menggenggam sebuah tongkat kayu bersisik berwarna coklat kehitaman.

Di hadapan lelaki berjubah putih itu, sekumpulan orang-orang yang membentuksetengah lingkaran, duduk berkeliling. Mereka semua tampak menundukkan kepala. Azarya, sang guru nan bijaksana, pengajar para raja dan pejabat istana, kembali mengumpulkan murid-muridnya. Tetapi tidak seperti hari-hari yang lain, dimana mereka biasa berkumpul di pinggir sungai, bukit ataupelataran istana. Hari ini mereka berkumpul dekat sebuah kandang ternak.Tidak ada seorang pun yang tahu rencana hati Azarya. Diantara lenguhan danbau ternak, guru dan murid itu, terdiam dengan penuh hikmat.

Perlahan-lahan sang guru mengangkat tangannya. Satu keping talenta emas tampak di terjepit diantara ibu jari dan telunjuk beliau. Benda itu terlihat semakin berkilau ditimpa cahaya matahari. Para murid bergumam tidakmengerti. "Anak-anak ku", sang guru pun mulai bersabda,"Siapakah dari antarakalian yang menginginkan benda ini, jika aku memberikannya?". Kini semuamata memandang kearah ujung jari Azarya. Sekeping talenta emas. Nilainya setara dengan bayaran seratus hari kerja orang upahan. Sama sekali bukanjumlah yang sedikit. Serta merta belasan orang itu mengangkat tangannya."Saya guru…saya guru …!!", seru mereka. Sesaat Azarya tersenyum mengelus janggut nya. "Hanya orang yang telah kehilangan akal sehatnya yang akan menolak pemberian satu keping talenta emas ini", lanjut nya sambilmenurunkan tangan. Kemudian tangan kiri Azarya bergerak mengambil sebuah mangkuk kecil didepannya. Cairan kermizi yang berwarna merah pekat tampakmengisi separuh mangkuk itu. Perlahan-lahan keping emas itu dicelupkannya kedalam mangkuk, hingga beberapa saat. "Masihkah kalian menginginkan benda ini?", tanya Azarya sambil kembali mengacungkan keping emas yang telah berubahwarna itu. "Tentu, guru !", jawab para murid serempak.Azarya memandangi kepingan berwarna merah pekat di tangan nya, tiba-tiba iamembuang keping emas itu kepermukaan tanah sepelempar batu jauhnya. Beberapa muridnya terlihat menggeser tempat duduknya menjauh. "Kau !", tunjuk sang guru ke arah salah satu muridnya,"Tampillah ke muka". Orang yang ditunjuk segera menaati perintah gurunya. "Ludahi keping emas itu !", perintah sangguru. Murid itu tampak ragu, ia memandang bergantian ke arah keping emas itudan guru nya memastikan apa yang didengarnya."Lakukan apa yang kuperintahkan", kata Azarya sambil tersenyum. Segera setelah muridnya meludahi keping emas itu, Azarya kembali bertanya, "Masihkah kalian menginginkan talenta itu ?". "Tentu saja guru", kembali terdengar jawaban dari arah para murid."

Jika demikian baiklah, kau bertiga ludahi lagi dan injak-injak keping emas itu !!", perintah Azarya. Ketiga orang itu pun melakukan persis seperti yang gurunya perintahkan. Sekarang keping emas itu telah berubah rupa.

Permukaannya yang tadinya berkilau kini tak lebih merupakan benda kotor yang sangat menjijikkan. Azarya berdiri, mengibaskan jubahnya, kemudian berjalan menghampiri keping emas itu. Sesaat ia memandangi benda itu, kemudian ikutmeludahinya."Anak-anakku, lihatlah benda yang menjijikkan itu.", kata Azarya sambil memandangi wajah-wajah mereka,"Masihkah ada seseorang diantara kalian yangmenginginkannya ?". Murid-murid saling berpandangan satu sama lain, beberapadiantara mereka tampak mengangguk-angguk. "Tentu Guru kami semua masihmenginginkannya", jawab mereka serempak. Mendengar jawaban para murid, Azarya mengambil sebuah capit dari kayu. Ia memungut benda itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi."

Kini dengarkanlah anak-anakku", sang guru pun bersabda," kalian dan siapapun akan tetap menginginkan keping emas itu, karena apapun keadaan yang mata kalian lihat, sekeping talenta emas, tetaplah sekeping talenta emas !"

Murid-muridnya terlihat saling berpandangan, sebagian dari mereka tampak mengangguk-angguk membenarkan perkataan sang guru."

Serupa dengan keping talenta emas ini", Azarya melanjutkan,"diri kalianpun, senista, secacat, sehina apapun, tetaplah mulia dan berharga.Kemiskinan, kecacatan, keadaan terkeji sekalipun tidaklah sanggup mengubahnilai seorang manusia. Manusia telah diciptakan demikian mulia"Azarya memandangi murid-murid nya lekat-lekat, setelah itu ia berjalan kearah kandang ternak yang berada tak jauh dari mereka. Murid-muridnya segerabangkit, mengikuti guru mereka dari belakang."

Seperti apa yang ku janjikan kepada kalian.", kata Azarya sambil menoleh,"Aku akan memberikan keping talenta emas ini kepada siapa pun yang mengingingkannya. Ambilah !". Dengan satu gerakan, Azarya melemparkan keping emas itu ke dalam tumpukan kotoran ternak yang tampak menggunung. Segera saja keping talenta emas itu membenam tak terlihat. Belum lagi Azarya menjauh dari tempat itu, murid-muridnya yang berjumlah belasan itu merangsek masuk ke dalam kandang. Mereka saling mendorong, berdesakan, saling himpit. Tidak sedikit dari mereka yangterinjak-injak oleh temannya sendiri Beberapa orang malah terlihat bergulat diantara kotoran ternak. Yang lain terlihat saling tinju dan saling hantam.Bak dihajar angin puting beliung, serta merta kandang yang semula aman damai itu jadi begitu berantakan. Lembu, kambing, domba berlarian keluar. Pagar kayu dan dinding kandang rusak berat. Azarya sesaat membiarkan kerusuhan ituterjadi, hingga ia merasa waktunya cukup."

Hentikan !", seru sang guru dan perkelahian itu pun serta merta berhenti," rupanya kalian belum juga mengerti. Barangsiapa bertelinga hendaklah mendengar ! Camkanlah apa yang ku katakan kepadamu hari ini danbelajarlah darinya."Azarya segera menghampiri murid-muridnya yang berlumuran kotoran hewan,"Sang Khalik, Pencipta kita, mengerti benar betapa berharga diri kita,manusia-manusia ini. Begitu juga dengan iblis-iblis jahat penghuni kegelapan, mereka juga tahu persis betapa mulianya kita. Satu-satunya yangsering tidak mengerti akan tingginya harga itu adalah kita, manusia itu sendiri. Manusia sering tidak mengetahui betapa mulianya ia dicipta. Bahkan tidak jarang, karena kebodohannya, manusia menukar kemuliannya dengan sesuatu yang sama sekali tidak berharga. Jadi mulai saat ini, jangan biarkan apapun dan siapapun bahkan hidup ini mendustai kalian, dan membuat kalian tidak berharga.

Karena kalian jauh lebih mulia dari ribuan keping telenta emas !!"
(****mta****)

From: by MTA – Made Teddy Artiana

No comments:

ARTIKEL: Bagaimana Berkhotbah

BAGAIMANA BERKOTBAH DENGAN PENUH KUASA?

 

Bahan pelajaran asli dari Pdt. Andreas Samudera.  Disadur dan diadaptasi dan diperkembangkan oleh Pdt. Sammy Lee

 

victoryglobalvision@gmail.com

 

Bahan ‘Bagaimana Berkhotbah’ ini dipersiapkan untuk melatih pekerja-pekerja Rumah Doa segala Bangsa agar mereka mampu berkhotbah dengan penuh kuasa.  Disini diberikan syarat-syarat dan kaidah-kaidah yang perlu diketahui dan dijiwai oleh seorang yang ingin menjadi pengkhotbah yang berkuasa.  Bahan ini masih merupakan garis besar saja yang masih perlu diuraikan secara lebih luas dan ditambahi dengan contoh-contoh pendek agar lebih jelas. Namun bagi mereka yang ingin mempergunakannya sebagai bahan latihan bagi pekerja gereja Tuhan, anda dapat mempergunakannya dengan menambahkan inovasi sendiri.

 

Bahan ini dibagikan  dalam 4 bagian yang dibawakan selama 4 sesi, menjadi semacam kursus dengan praktek langsung pada setiap sesinya. Peserta dapat dibagi dalam kelompok-kelompok 4 orang atau sebanyak-banyaknya 6 orang. Pada setiap sesi peserta diberi waktu 10 sampai 15 menit untuk praktek berkhotbah secara bergilir, sementara yang lain mengisi daftar penilaian terhadap pembicara. Hasil penilaian ini diberikan langsung kepada pembicara agar ia tahu apa pendapat orang lain terhadap penyampaiannya.

 

Anda boleh memakai bahan ini dengan bebas, dengan syarat anda mau sekedar memberitahukan kami dengan singkat ke alamat e-mail: victoryglobalvision@gmail.com

 

Juga kami meminta pendapat dan saran anda bila anda telah memakainya, agar kami dapat memperbaiki untuk penggunaan yang lebih baik dikemudian hari.

Artikel Selengkapnya