Cari Artikel di Blog ini

Selamat Datang di Website PA-DKI Plus

Website/Weblog PA-DKI Plus adalah pengembangan dari Milis PA-DKI yang sejak tahun 2000 sudah berdiri dan cukup hot dalam berdiskusi. Website ini dikembangkan dengan tujuan untuk menyediakan sumber-sumber maupun bahan-bahan bacaan yang berguna bagi para Pemuda Advent DKI, maupun penyediaan dokumen-dokumen penting Kepemudaan, termasuk foto-foto kegiatan pemuda.

PA DKI Plus adalah singkatan dari Pemuda Advent DKI Jakarta & Sekitarnya. "Plus" nya sendiri bisa berarti banyak. Yang pertama plus dalam arti usia, website dan milis PA-DKI seperti kita ketahui, tidak terbatas hanya untuk para orang muda, namun juga pada mereka yang berjiwa muda. Plus yang kedua tentunya dari segi geografi. Website dan milis PA-DKI terbuka untuk semua orang muda dan yang berjiwa muda di seluruh dunia, tidak hanya di DKI Jakarta.

Terima kasih banyak atas kunjungan Anda. Pihak moderator dengan senang hati menerima kiriman artikel rohani, sumber-sumber penting bagi Kepemudaan, berita-berita dari jemaat Anda, beserta gambar-gambarnya. Kirim kan saja ke email: admin@jakartaadventist.org, setelah disunting berita atau artikel Anda akan terpublish di Weblog ini.

Satu yang terakhir namun tetap penting, Milis dan Weblog PA-DKI adalah resmi di bawah naungan Direktur Pemuda Advent Konferens DKI Jakarta & Sekitarnya yang sekarang diemban oleh Pdt. Daniel Rampen.

Salam Pemuda,
Moderator

Thursday, November 29, 2007

Panggilan Keluar dari Babel I

1. GAYA KARANGAN ALKITAB DAN GAYA KARANGAN MODERN
Di sekolah, kita diajari mengarang. Seni mengarang tradisional biasanya terdiri dari 3 bagian: a) pendahuluan, b) isi pokok, dan c) penutup. Pendahuluan belum mengungkapkan isi cerita yang sebenarnya. Serba-serbi mengapa cerita itu dibuat dan sebagainya ditulis dalam pendahuluan. Setelah itu, baru isi ceritanya dikemukakan. Sesudah pokok ceritanya ditulis, karangan itu diakhiri dengan satu kesimpulan, nasihat, atau kata-kata penutup lainnya yang sesuai.
Belakangan ini terlihat adanya penyimpangan-penyimpangan dari gaya mengarang tersebut. Gaya modern menampilkan ringkasan inti ceritanya yang paling menawan perhatian terlebih dahulu. Cara ini rupanya dianggap lebih berhasil untuk membuat orang membaca karangan tersebut. Alkitab bukan merupakan tulisan yang tertua, tetapi Alkitab adalah buku pertama yang dicetak. Oleh sebab itu, Alkitab tergolong dalam jajaran buku-buku kuno. Walaupun begitu, di bagian nubuatan-nubuatannya, Alkitab sudah menggunakan gaya mengarang modern di atas.
Hal ini penting sekali untuk diketahui oleh para pelajar Alkitab. Banyak penafsiran yang salah yang telah timbul karena anggapan bahwa apa yang ditulis dalam ayat-ayat yang kemudian pasti menyusul kejadian-kejadian yang ditulis dalam ayat-ayat sebelumnya.
Misalnya; Dalam Wahyu 7:1-4 ditulis bahwa sejumlah orang akan dimeteraikan sebelum malaikat-malaikat dari empat penjuru mata angin dilepas untuk membinasakan dunia ini. Kemudian, dalam ayat 5, terlihat satu kumpulan orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya. Karena ayat 5 menyusul ayat 1-4, ditarik kesimpulan bahwa kumpulan orang banyak itu adalah orang-orang yang akan diselamatkan oleh penginjilan kelompok yang dimeteraikan. Apakah benar begitu? Hal ini akan kita pelajari dengan lebih teliti di kemudian hari. Hari ini kita akan memperlihatkan cara Alkitab menampilkan kebenarannya dari Eden ke Eden dengan pemusatan perhatian pada KEDATANGAN TUHAN dan panggilan-panggilannya untuk keluar dari segala peribadatan yang salah, yaitu Babel. - Bersambung

Panggilan Keluar dari Babel I - sambungan

WAHYU 12
Kita sudah terlalu sering membaca Wahyu 12. Walaupun begitu, kita akan mempelajari bersama beberapa ayat yang terdapat di dalamnya.
“Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.”—Ayat 1 & 2.
Diperkenalkan kepada kita ‘bintang/cerita’ yang pertama, yaitu seorang wanita dengan bakal keturunannya.
“Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.”—Ayat 3 & 4.
Diperkenalkan kepada kita ‘bintang/cerita’ yang kedua. Naga, ular tua (ular di Eden), si Iblis yang mempunyai pengikut sepertiga dari jumlah malaikat-malaikat surga.
“Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.”—Ayat 4-6.
Setelah dua pelaku di dalam cerita ini diperkenalkan, kita diberi tahu bahwa mereka berperang. Kasihan sekali perempuan itu, karena nampaknya ia tidak berdaya. Yang mempunyai kuat kuasa adalah Anaknya, karena Ia akan memerintah semua bangsa dengan gada besi. Tetapi Anaknya itu terangkat ke surga dan meninggalkan perempuan itu berperang “sendirian” dengan naga, si ular tua itu. Ia nampaknya kalah terkejar. Ia melarikan diri ke padang gurun di mana ia telah dilindungi oleh Tuhan selama 1260 tahun.
Sesudah inti dari peperangan yang besar yang terjadi di bumi di antara perempuan (yang hendak melahirkan seorang Anak Laki-laki) dan naga (si ular tua itu) diungkapkan, di dalam ayat-ayat berikutnya di pasal ini diceritakan dari mana sebenarnya si ular tua itu telah datang. Dengan begitu, kita telah dibawa kepada satu kejadian yang menjelaskan kepada kita mengapa sampai terjadi satu peperangan di bumi ini.
“Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”—Ayat 7-9.
Agar kita tidak menjadi bingung, dan agar kita dapat memusatkan perhatian kita kepada satu inti pokok pelajaran untuk hari ini, kita tidak akan membahas bahwa ada kalanya beberapa ayat Alkitab mempunyai penerapan-penerapan lebih dari satu kali—termasuk ayat-ayat di atas. Agar kita tidak digolongkan dalam kelompok Desmond Ford karena mengemukakan kebenaran ini, kita akan mengutip satu kutipan dari Roh Nubuat untuk menunjukkan bahwa memang ada ayat-ayat Alkitab yang mempunyai penerapan lebih dari satu kali.
“Saya sering diarahkan kepada perumpamaan anak sepuluh dara, lima di antara mereka bijaksana dan lima bodoh. Perumpamaan ini telah digenapi (pada tahun 1844) dan akan digenapi (pada akhir zaman) sampai pada huruf-hurufnya karena mempunyai kegenapan yang khusus untuk masa ini...”—R&H, 19 Agustus 1890.
Jadi, naga besar, si ular tua, yang disebut Iblis atau Setan yang berhadapan dengan perempuan di bumi ini berasal dari surga. Ia berperang melawan Yesus dengan malaikat-malaikatNya, tetapi ia tak dapat bertahan. Ia dengan sepertiga dari malaikat-malaikat yang mengikutinya telah dikalahkan dan dilempar ke bumi.

Dikirim oleh Tjokro

Wednesday, November 28, 2007

Mail-list Thread: Adat di Gereja Advent

Ada satu ganjalan di benak saya sebagai orang Batak (walaupun untuk yang Non-Batak juga di-welcome pendapatnya). Apakah etis panggilan maupun penghormatan dalam adat Batak dibawa-bawa ke dalam gereja? Contoh, keponakan saya biasa memanggil "tulang" (adik dari ibu) pada saya.

Apakah di dalam gereja juga etis bila dia memanggil "tulang"?

Terutama pada saat keponakan tersebut menjadi Protokol/MC, misalkan.

Terima kasih atas pendapatnya sebelumnya.

GBU

Philips

Ristiyani Wulandari:

Halo Phil,

Mau kasih pendapat nih...

Kalau boleh di sebaiknya adat jangan dibawa ke gereja....karena digerejakan gak batak semua bagaimana dengan suku yang lain...wah repot dong kalau masing2 bawa adatnya kepodium nanti yang jawa panggil bulik/paklik (tante/om dlm bahas jawa) atau mas, mbakyu.... menurutku itu jadi kacau balau lebih baik kita pakai bahasa Indonesia, bapak/ibu buat yang sudah menikah dan sdr/i buat yang single....jadi semuanya netral...

atau mungkin disorga nanti kita masih tetap dengan kesukuan kita....????

met kerja n GBU

Tommy Manawan:

Yang pasti dalam Yesus tidak ada satu adat mana pun yang lebih baik dari Adat yang Yesus ajarkan. Silahkan masing2 jabarkan seperti apa adat Yesus, itulah yang kita hidupkan dalam kehidupan orang kristen baik di gereja, rumah, kantor dan dimana saja.


Holbert Tamba:

Menurut saya masalah karna

1. panggilan itu menjadi satu pertanyaan bagi orang yang tidak satu suku.

2. panggilan tersebut bisa mendatangkan suatu pandangan yang negatif dari orang lain. (KKN) khususnya dalam pemilihan pengerja di dalam gereja. Saya pernah baca satu buku yang isinya kesukuan, dan keagamaan tidak boleh dibawa-bawa dalam: Pekerjaan, Pendidikan, dan Gereja juga.

Sovie Simbolon:

Hi Philips,

Nich pandanganku lho... Kalo waktu di gereja apalagi jadi MC harus lebih profesional dong pak... :)

Ada beberapa kebiasaan sebutan yang sering di gunakan seperti: Saudara/i or Bapak/Ibu

Contoh saja kalo suami or istri menyebutkan istri nya atau suamipun bapak Philips marbun... yach.. seperti itulah...

Khan gereja itu bukan milik keluarga or batak saja hehehehe... :) Tuhan juga mengajarkan Saudara-saudariku.... gicu lho...

Mitchell Naibaho:

Hi All,

Suatu kali saya jd protokol di acara Permintaan Doa di gereja. Utk doa tutup acara pd waktu itu, saya hunjuk Mama saya sndiri dengan sebutan Ibu Pdt Naibaho (org tua saya Pdt). Di acara itu juga ada Opung saya (baca:kakek..buat yg ga ngerti, heheh...). Nah, waktu dah nyampe di rumah, saya dimarahin ama Opung tercinta..:( Beliau bilang, knp km ga panggil Mama waktu hunjuk utk doa tutup.. Wah, kaget jg waktu itu...Kita sempat berargumen di rumah ama beliau sambil bercanda2..Tp Opung saya ttp kekeh kt sebaiknya sebut hubungan kita dgn org yg kita hunjuk itu, biar org yg mungkin tidak kenal dgn kita bisa tau hubungan kita dgn org lain (yg kita hunjuk).. Jd should be, "Utk doa tutup saya undang, Mama, Ibu Pdt Naibaho".

Nah, ga tau ini nyambung dgn yg lagi di bahas apa ngga..Cuma yg saya tangkap dr argumen mendiang opung saya waktu itu adalah kita patut mghargai para orang tua kita di gereja, (termasuk dr podium), salah satunya dgn cara menyebut panggilan kita biasanya..Ntah jugalah...

Buat saya pribadi, mo panggil Om/tante/Tulang/Amangboru, Pak Cik, no problem at all.. Justru di situlah letak keunikan gereja kita, beranekaragam tp tetap kompak n bersatu... Ga ada bedanya kok dgn nyebut Bapak/Ibu..ato Om/Tante..Tulang/Nantulang..:D

Coba bayangkan indahnya kesatuan itu saat seorang MC memanggil Ketua gereja yg Batak dgn Amangboru, trus dia panggil lagi Sekretaris Jemaat yg org Manado dgn Om, trus seorang anggota jemaat Jawa dgn sebutan Mas, dan seorang ibu muda dgn sebutan Teteh krn dia dr Bandung...Hmmm....oya satu lagi, dia panggil pianis gereja dgn sebutan Cici, krn keturunan Tionghoa...:)

Sekarang sbenarnya sesama batak pun ga pake panggilan adat lagi...saya hanya panggil panggilan adat ke orangtua yg saya yakin pasti hubungan adat dgn mereka. Tp klo marganya ga nyambung lagi dgn marga saya, cenderung saya panggil Om/Tante aja...hehe..kalian juga pasti bgitu kan? hayo ngaku...:D

So, adat itu bs memberi warna yg indah kok di gereja kita...:)

cheers,

mitchell

palemsemi


Monang Tambunan:

Dear All,

Saya tidak mengikuti semua pembahasan sebelumnya tapi dari judulnya dan email terakhir saya bisa ambil kesimpulan bahwa "adat" di gereja Advent maksudnya adalah "panggilan" kepada seseorang didalam kebaktian.

Sebelum saya datang dari sudut Alkitab saya mau terangkan dulu dari segi Antropologinya.

Kebudayaan atau adat-istiadat adalah satu kebiasaan atau pola hidup dari satu kelompok masyarakat.

Dalam hal ini kita akan bicarakan adat orang Batak.

Oleh karena kelompok masyarakat terdiri dari individu-individu maka setiap individu ini akan terikat dengan kebudayaan atau adat istiadat dimana dia dilahirkan. Contoh, saya adalah orang batak toba maka saya akan terikat dengan adat-istiadat Batak Toba bukan Batak Simalungun atau Karo atau Madailing dll. Kebudayaan atau adat istiadat Batak Toba akan membentuk jati diri saya, cara berfikir saya, cara berperilaku, tutur kata dan bersikap dan juga cara saya menghayati dan mengimlemantasikan nilai-nilai hidup.

Dipihak yang lain Injil adalah Kabar baik. Kabar keselamatan. Injil mengatakan bahwa barang siapa didalam dosa maka dia berada didalam maut. Oleh karena upah dosa adalah Maut. Tetepi terima kasih kepada Yesus yang telah datang dan mati di kayu salib dan telah membayar lunas utang dosa saya sehingga saya sekarang tidak berada di bawah maut lagi.

Kemudian Paulus dan Yohanes berkata, Barangsiapa yang berada dibawah Salib adalah "Anak Allah."

Galatians 3:26-29 26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.


Apa arti dari Ayat ini?

Barangsiapa didalam Kristus maka tidak ada lagi perbedaan. kita adalah sama dibawah Salib.

Nah, bagaimana dengan saya yang orang Batak Toba yang terikat dengan adat-istiadat Batak Toba?

Injil tidak meniadakan kebudayaan yang membentuk manusia, melainkan Injil membarui cara berpikirnya, berperilakunya, bertutur katanya, bersikapnya, caranya menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai hidupnya. Itulah yang kita sebut transformasi kebudayaan. Transformasi kebudayaan memang tidak mudah, ia diibaratkan suatu kelahiran baru (rebirth) yang mengalami kesakitan persalinan, tetapi yang akhirnya bermuara ke dalam sukacita kelahiran. Tidak ada manusia yang bisa melepaskan diri dari kebudayaan. Yesus pun adalah manusia Yahudi yang dilahirkan ke dalam kebudayaan Yahudi, Ia mengikuti adat-istiadat dan agama Yahudi. Namun Ia membarui adat-istiadat dan kebudayaan Yahudi itu dari dalam. Ia menjungkir balik nilai-nilai yang ditradisikan turun-temurun melalui implementasi Hukum Taurat. Transformasi yang dilakukan Yesus akhirnya membawa-Nya kepada kayu salib.

Kembali kepada tulisan Paulus didalam Galatia.

Saya ingin bertanya kepada saudara-saudara yang dilahirkan sama seperti saya, yaitu Batak Toba. Apa artinya menjadi "Anak Allah"?

Kalau jawaban saudara masih ada mengandung sukuisme, kita perlu lagi merenungkan apa artinya berada didalam Kristus.

Problem yang dihadapi oleh Paulus di jemaat Galatia telah menjadi problem kita sekarang. Paulus mengatakan bahwa didalam Kristus kita satu, sama dan tidak ada perbedaan.

Saya pikir para gembala kita perlu mengkhotbahkan issue ini didalam gereja untuk memberikan pengertian yang baik kepada Anggota.

Monang Tambunan

Adrian Khoman:

Haloo....

Mau kasi pendapat nih ya...

Menurut saya, kalau sekedar panggilan ya gak masalah saja.... soalnya itu kan bentuk penghormatan kita pada yang lebih tua...

nah, kalau dari panggilan tertentu, kan kita tau hubungan kekerabatannya bagaimana.... jadi gak perlu ada penjelasan lagi....


TAPI.... (nah ini dia....)

Masalahnya, adalah kalau adat lebih dijunjung tinggi daripada agama...

ambil contoh ya.... orang kita ada yang lebih ngamuk kalau dibilang tidak "beradat" daripada tidak ber"agama" atau tidak ber"Tuhan"...

ini masih bisa dijumpai pada orang "kita" di Medan, khususnya....

Yang lebih ekstrim lagi, ada orang2 tua kita yang memilih pergi ke acara Adat pada hari Sabat daripada mengutamakan pergi ke gereja...

Nah, hal2 yang seperti inilah yang harus kita tinggalkan...

Tapi kalau soal sopan santun, hormat menghormati, kenapa tidak dilestarikan??

-Adrian




[AMR] MAHK dan Keterbukaan

Keterbukaan yang terbentang di Depan kita
(Pada hari Sabat, tanggal 8 July 2006, ketua gereja sedunia Pendeta Jan Paulsen menyampaikan kata sambutan kepada suatu perkumpulan yang terdiri dari kurang lebih 240 teolog dan para pakar di Izmir; Turki, yang berkumpul di bawah tema: “Sifat, Misi dan Keesaan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.” Berikut ini adalah intisari dari kata sambutan Pendeta Jan Paulsen.)

Didepan kita terbentang wilayah yang terbuka tanpa batas masa depan besar dan penuh kemungkinan yang tantangannya jangan dianggap enteng. Apa yang menjadi kekuatan-kekuatan yang harus membentuk kita, atau membawa kita, sementara kita bergerak memasuki masa yang akan datang?
Ada kekuatan-kekuatan didalam gereja yang sedang membentuk ajaran Advent diseluruh dunia, dan ada kekuatan-kekuatan diluar gereja yang akan mempengaruhi kita. Pertanyaan besar didepan kita adalah: Bagaimana kita menentukan batas-batas yang akan memberi bentuk pada keterbukaan yang kita masuki? Apa tanda-tanda yang akan menuntun kita kedalam masa depan dan menjaga agar perjalanan kita aman?
Kita harus berjalan memasuki masa depan secara kreatif dan tanpa perasaan takut, mengetahui bahwa setiap manusia yang kita jumpai dalam perjalanan kita adalah sasaran kasih Allah yang menyelamatkan, tetapi dengan tidak mengetahui secara tepat apa yang Allah inginkan ditiap budaya dan tiap situasi yang mengangkat manusia itu dari “Kesesatan” kedalam keselamatan.

A.Kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi dan membentuk kita.
1. Pertumbuhan Kita yang Serba Cepat
Pertumbuhan serba cepat berarti bahwa gereja semakin dilokalisasi, dan dengan demikian tidak terlalu diatur pusat lagi, dalam pengelolaan dan pelayanan. Perluasan, dalam jumlah maupun territorial, berarti bahwa jenis pengendalian dan bimbingan yang dimasa lalu bisa saja berasal dari satu sumber atau pusat, seperti General Conference atau divisi, tidak lagi efektif atau bisa dipertahankan. Apakah kita sudah siap untuk ini? Pertumbuhan yang cepat dan perluasan bukan saja bisa menggeser “bobot” dari organisasi itu, hal itu dapat pula secara sendirinya mempengaruhi gereja secara global.
2. Kontekstualisasi dari Ajaran Advent
Keyakinan-keyakinan kita terus-menerus disaring melalui prisma-prisma budaya yang berbuah suatu ajaran Advent yang tampaknya dan rasanya mungkin berbeda dari satu bagian dunia ke bagian lain. Seberapa terampilkah kita bisa memastikan bahwa, didalam proses ini, hati dan pikiran ajaran Advent tidak berubah?
Kontekstualisasi, yang saya maksudkan ialah menjadikan pesan itu layak secara budaya, merupakan satu proses yang tidak bisa dihindari. Tak satu dari kita diminta melangkah keluar dari budaya kita untuk menjadi orang Advent. Melalui budaya dan sejarah kita, kita mengalami kehidupan, dan hal ini tidak bisa, dan jangan ditanggalkan. Jadi di dalam batas-batas yang layak, kontekstualisasi harus terjadi.
Nasihat Roh Nubuatan sudah jelas: “Bangsa setiap Negara memiliki karakteristik yang khas dan tersendiri, dan penting sekali bahwa orang menjadi bijak supaya mereka bisa mengetahui bagaimana menyesuaikan diri mereka dengan gagasan-gagasan khas suatu bangsa, dan dengan demikian memperkenalkan kebenaran yang bisa berbuat baik bagi mereka. Mereka harus bisa mengerti dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka” Testimonies to Ministers, hlm. 213.
Kita harus berbagi pesan ini dengan lemah lembut dan pada derap langkah yang akan membawa orang bersama kita, karena kapasitas seseorang untuk menerima dan mengerti kebenaran dibentuk dan dikondisikan oleh sejarah dan budaya mereka.
3. Mengubah Kondisi Intelektual dan Moral di dalam Gereja
Gereja kita semakin ‘bertambah muda’ dan ‘lebih baru’ dan dibidang-bidang pertumbuhan cepat ini, gereja juga semakin condong ke “Kekristenan selatan.” Gereja yang lebih tua (Kekristenan utara) semakin dipengaruhi sekularisme, ‘relativisme spiritual’, modernisme, dan satu jajaran ‘isme’ lain yang akan , dalam banyak pandangan para pemantau, semakin menggerakkan gereja kekiri dan menjadikannya semakin liberal. Bagaimana kita bisa menghubungkan diri kita kepada ketegangan yang pasti akan terjadi dan tidak terhindarkan dan mencari jalan keluar?
Disinilah kejujuran, kerendahan hati, pengertian, toleransi budaya, dan kasih menjadi begitu penting bagi persatuan gereja. Persatuan harus diusahakan secara terarah, dan unsur-unsur yang memelihara keesaan harus dipupuk dan dipelihara.
GMAHK yang lebih muda, lebih baru, dan cukup konservatif adalah gereja yang dengan telak berdiri didepan kita. Kita tidak bisa berjalan menghindarinya atau tidak mengindahkannya. Bagaimana kita menegaskan keabsahan “yang lebih muda” dan “lebih baru” dan membiarkan mereka memegang kendali gereja? Pertama, sebaik mungkin melatih mereka dan memperlengkapi mereka supaya mereka bisa berbagi nilai dan indentitas dari ajaran Advent mula-mula. Dan kedua, kita percaya kepada mereka dan kepada Tuhan dari gereja itu. Itulah langkah-langkah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi; kita harus mengambilnya.
4. Globalisasi
Walaupun benar bahwa gereja semakin menjadi gereja lokal dan tidak terlalu diatur pusat, ada satu kekuatan berlawanan yang bekerja. Apa yang disebut “keterbukaan” dunia berarti penyebaran ide, pengalaman, dan Harapan-harapan secara cepat; internet dan media internasional menjaminnya.
Globalisasi juga membawa kita ke perpindahan orang yang sangat besar, entah digerakkan oleh peperangan yang mengakibatkan membanjirnya kaum pengungsi, atau karena usaha memperbaiki nasib, keluar dari kemiskinan ke jenjang yang lebih baik. Berjuta-juta orang sekarang bergerak pindah, sering membawa lebih banyak di “dalam” diri mereka, daripada “pada” diri mereka.
Proses dunia ini menjadi satu desa di beberapa tempat sudah terlihat jelas. Gereja-gereja etnis dalam jumlah yang tidak pernah ada sebelumnya menjadi bagian dari keluarga global kita. Walaupun mereka jauh dari kampung halaman tradisional mereka, siapa bisa mempersalahkan mereka karena menginginkan suara dan kehadiran yang layak dalam kehidupan gereja dimana mereka sekarang berada? Inilah bagian dari kenyataan yang menantang kita sebagai satu gereja global, dan harus diperlakukan dengan adil dan tanpa prasangka.
Sementara kita menghadapi masa depan, satu hal yang selalu ada didepan kita adalah bahwa kita sebuah ORGANISASI MISI: kita punya mandat misi yang jelas. Adalah kesetiaan kita kepada misi yang sebagian besar akan menentukan kesetiaan kita kepada Allah. Kita maju dengan kekuatan dan keyakinan ke dalam ruang besar masa depan, karena disanalah kita akan melakukan misi. Jika kita tidak melakukan misi, kita sudah kehilangan alasan untuk keberadaan kita dan kebergunaan kita kepada Allah. Kita akan tetap GLOBAL; kita akan tetap BERSATU, dan kita akan melakukan MISI.
B. Rambu-rambu atau batasan-batasan apa akan membawa kita dengan aman ke dalam masa depan dan menjaga supaya kita tidak kehilangan jalan kita?
1. Kitab Suci
Nilai-nilai apa pun yang kita pegang dan tegaskan harus Alkitabiah. Firman Allah, Kitab Suci, adalah sumber kebenaran yang unik dan berwenang sebagai pengetahuan yang menyelamatkan. Rambu-rambu yang dapat secara mutlak diandalkan, yang akan bisa menjaga kita tetap berada pada jalur, haruslah selalu mempunyai Kitab Suci sebagai titik acuannya.
Begitu kita melangkah keluar batas Kitab Suci perjuangan kita dengan tantangan-tantangan kontekstualisasi dan “tetap fasih dengan masa kini” menjadi berbahaya. Tanpa Firman Allah sebagai rambu-rambu, gereja akan dihadapkan dengan tuntutan-tuntutan untuk “bersikap lentur,” “menggunakan akal sehat”, mengurangi sikap dogmatis, mengurangi sikap berwenang dan mutlak, siap berkompromi, dan ya, lebih terbuka-tetapi dengan cara yang tidak jelas.
Masa depan terbuka, tetapi rambu-rambu Allah untuk jalan yang aman kedalam masa depan tidak aman. Ada parit-parit berbahaya dikiri dan kanan jalan. Jika kita lepas dari Kitab Suci kita sudah pasti akan masuk kedalam salah satu parit. Kita juga berpendapat, lebih jauh, bahwa tulisan-tulisan Ellen White selalu dan secara jelas memberi tahu kita tentang Kitab Suci.
2. Yesus Kristus
Yesus Kristus harus dengan tegas diidentifikasi dan diterima sebagai penuntun kita ke dalam masa depan. Ia yang berkata tentang Diri-Nya: “Akulah jalan….Tidak ada seorangpun yang datang kepad Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6), dan yang membawa Petrus untuk mengaku “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16), harus dinyatakan sebagai Dia yang unik, satu-satunya yang memiliki perlengkapan untuk membawa kita melalui dunia ini ke dunia yang berikut.
Sebagaimana Kitab Suci membawa kita, tanpa bisa dipungkiri, ke pesona Yesus Kristus, maka begitulah seharusnya setiap manifestasi dari ajaran Advent Hari Ketujuh difokuskan untuk menarik perorangan ke suatu pengetahuan dan penerimaan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Ini harus jelas menjadi rambu-rambu dalam latar belakang global yang bukan Kristen. Setiap “merek” ajaran Advent tanpa Yesus Kristus di pusatnya, diakui dan ditegaskan, jangan ditolerir didalam komunitas kita.
3. Pikiran-pikiran yang Terbuka
Sebagai suatu umat, kita harus memiliki kerendahan hati bahwa kita tidak mengetahui semuanya. Oleh Karena itu, kita harus punya pikiran-pikiran yang terbuka terhadap penemuan sementara kita mencari untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dan lebih jelas mengenai kebenaran.
Roh Nubuatan sudah berulang kali menasihati bahwa kita harus ambil bagian dalam pencarian ini. Misalnya : “Allah mengharapkan dari mereka [umat Allah yang benar] peningkatan berkesinambungan didalam pengetahuan kebenaran, dan dalam tata cara kekudusan” (Testimonies for the Church, jld.1, hlm. 345).
Keterbukaan dihadapan kita-ruang waktu dan peluang-peluang didepan kita-harus menemukan keterbukaan yang sepadan didalam pikiran kita, sementara, dipimpin Roh, kita mencari kemana Ia ingin membawa kita. Ini harus diakui sebagai pendirian dasar, apa pun risikonya. Alternatifnya adalah menutup penemuan dan pencarian.
4. Menolak Relativisme
Kita harus menolak untuk menyesuaikan nilai-nilai Kitab Suci. Relativisme, kiat untuk memadamkan Alkitab dengan dunia pasca modern kita akan tanpa ampun mendorong kita supaya menjadi lebih bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan dengan demikian menghadirkan suatu pesan yang menarik mayoritas umum.
Kita harus jelas sekali bahwa nilai-nilai iman bukan dilahirkan didalam. Nilai-nilai itu pada gilirannya memurnikan pengalaman kita. Yesus Kristus berkata tentang Roh Kudus: “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26).
5. Memprioritaskan Misi
Kristus berkata kepada para pengikut-Nya: “Kamu akan menjadi saksi-Ku…sampai keujung bumi” (Kisah 1:8).
Gerakan kita adalah gerakan misi-dan hal ini juga harus menjadi rambu-rambu yang jelas pada jalan kita menuju masa depan. Misi dengan jelas harus mendorong keputusan-keputusan disegala tahap dari administrasi gereja, didalam rapat-rapat dewan lembaga-lembaga kita, dan digereja local. Misi harus berada pada puncak agenda dalam perencanaan danpenggunaan sumber daya. Bahasa misi haruslah “dialek” yang dipilih gereja. Jika misi bukan sasaran utama, maka semua dewan penasihat kita dan rapat serta pertemuan kita pada tiap jenjang administrative adalah sia-sia.
6. Peka terhadap Penderitaan
Satu rambu-rambu lain yang penting untuk gereja adalah keterlibatan kita dengan penderitaan orang miskin, yang sakit, para pengungsi, dan mereka yang terbuang dari bangsa dan Negara mereka. Ini harus menjadi nilai yang terlihat dengan jelas pada agenda misi kita, karena tanpa keterlibatan ini bisa dipastikan secara rasional bahwa kita sudah kehilangan jalan, Kristus menjelaskan bahwa Ia akan meminta pertanggungjawaban tentang bagaimana kita memperlakukan mereka yang kebutuhannya lebih besar daripada yang bisa mereka tangani sendiri (Matius 25:31-46).
Melalui pelayananlah gereja memperlihatkan bahwa misi lebih daripada sekadar kata-kata yang diucapkan; bahwa ada suatu kesinambungan antara membuat hidup ini lebih baik untuk orang disini dan sekarang dan mempersiapkan mereka untuk kekekalan.
7. Menerima Keanekaragaman
Sementara gereja kita bertumbuh dengan cepat dan menyebar di seluruh dunia ke dalam tiap budaya, ras dan nasionalitas, kita harus bisa bekerja lebih baik dengan keanekaragaman umat manusia dibanding dengan prestasi kita di masa lalu. Mereka yang berbagi iman di dalam Kristus menemukan bahwa Dialah penyimbang besar dari semua umat percaya (Galatia 3:26-29).
Oleh karena itu hal ini akan menjadi rambu-rambu global yang kelihatan sangat jelas karena ini berkaitan dengan nilai umat manusia, sifat adil, perilaku, keturutsertaan, dan penampilan. Gereja kita internasional dan berbagai etnis berbaur, selain kenyataan bahwa kita laki-laki dan perempuan, harus dicerminkan di dalam kepercayaan yang kita berikan kepada satu sama lain, dan ruang yang kita sediakan untuk semua turut serta berpartisipasi. Semua ini tidak akan terjadi dengan sendirinya. Diperlukan keputusan-keputusan yang tepat.
8. Komitmen kepada Keesaan
Keesaan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, secara spiritual dan struktural, secara lokal dan global, adalah rambu-rambu total di jalan kita kedalam masa depan. Inilah salah satu unsur yang dicerminkan Yesus Kristus selama beberapa jam terakhir-Nya bersama para murid-Nya sebelum Getsemani. Dalam suatu cara yang mistik, keesaan iman yang mengikat umat percaya menjadi satu tertanam dalam keesaan Kristus dengan Bapa (Yohanes 17:20-23). Inilah suatu keesaan yang dilayani Roh Kudus(Efesus 4).
9. Antisipasi tentang Kedatangan Kristus
Kita adalah satu komunitas yang hidup menantikan kedatangan Tuhan kita yang kedua kali, dan nilai-nilai kita mencerminkan realita ini. Inilah sebuah rambu-rambu yang tertanam di dalam identitas kita. Sifat fana dari dunia ini, kepastian dari kedatangan kembali Kristus, tugas yang diberikan kepada kita untuk berbagi pesan ini-semua hal ini haruslah menjadi inti dari khotbah dan ajaran kita.
Hidup dengan harapan akan kedatangan kembali Kristus menyiratkan lebih daripada hanya satu persetujuan intelektual terhadap suatu posisi doktrinal. Inilah sebuah rambu-rambu yang paling baik dinyatakan dalam cara kita hidup; memberi warna pada kegiatan kita sehari-hari dan membentuk pilihan-pilihan kita. Sebagai sebuah gereja, identitas kita, nilai-nilai, dan misi kita dihubungkan tanpa bisa dipisahkan dari rambu-rambu tersebut. Kita akan merugikan diri kita saja jika kita tidak melihat hal ini lagi.
Beginilah kita dan seperti inilah kita akan memasuki masa depan. Sementara kita melangkah, saya berdoa kita tidak saja akan menaruh percaya kepada Tuhan, tetapi bahwa kita juga belajar saling mempercayai satu sama lain, yakin bahwa, dibawah bimbingan Roh Kudus, kita bisa bergerak maju ke dalam masa depan yang lebih terbuka, dipersatukan dalam iman dan misi.
© Adventist World | Maret 2007

ARTIKEL: Bagaimana Berkhotbah

BAGAIMANA BERKOTBAH DENGAN PENUH KUASA?

 

Bahan pelajaran asli dari Pdt. Andreas Samudera.  Disadur dan diadaptasi dan diperkembangkan oleh Pdt. Sammy Lee

 

victoryglobalvision@gmail.com

 

Bahan ‘Bagaimana Berkhotbah’ ini dipersiapkan untuk melatih pekerja-pekerja Rumah Doa segala Bangsa agar mereka mampu berkhotbah dengan penuh kuasa.  Disini diberikan syarat-syarat dan kaidah-kaidah yang perlu diketahui dan dijiwai oleh seorang yang ingin menjadi pengkhotbah yang berkuasa.  Bahan ini masih merupakan garis besar saja yang masih perlu diuraikan secara lebih luas dan ditambahi dengan contoh-contoh pendek agar lebih jelas. Namun bagi mereka yang ingin mempergunakannya sebagai bahan latihan bagi pekerja gereja Tuhan, anda dapat mempergunakannya dengan menambahkan inovasi sendiri.

 

Bahan ini dibagikan  dalam 4 bagian yang dibawakan selama 4 sesi, menjadi semacam kursus dengan praktek langsung pada setiap sesinya. Peserta dapat dibagi dalam kelompok-kelompok 4 orang atau sebanyak-banyaknya 6 orang. Pada setiap sesi peserta diberi waktu 10 sampai 15 menit untuk praktek berkhotbah secara bergilir, sementara yang lain mengisi daftar penilaian terhadap pembicara. Hasil penilaian ini diberikan langsung kepada pembicara agar ia tahu apa pendapat orang lain terhadap penyampaiannya.

 

Anda boleh memakai bahan ini dengan bebas, dengan syarat anda mau sekedar memberitahukan kami dengan singkat ke alamat e-mail: victoryglobalvision@gmail.com

 

Juga kami meminta pendapat dan saran anda bila anda telah memakainya, agar kami dapat memperbaiki untuk penggunaan yang lebih baik dikemudian hari.

Artikel Selengkapnya